Pages

Wednesday, 12 September 2012

Paes Ageng

Seperti yang sudah pernah saya singgung di posting sebelumnya tentang perias, saya sudah memutuskan untuk mengenakan rias paes ageng. Pertama kali melihat riasan ini waktu lagi stalking akun facebook salah seorang kawan saya. Dan sayapun langsung jatuh cinta. Di mata saya sih riasan ini terlihat anggun dan majestic. Maka, iseng-iseng saya meng-googling info terkait dengan riasan ini. Dan salah satu yang paling lengkap saya dapat dari web resmi Museum Ullensentalu yang bisa dilihat di sini. Kebetulan waktu lebaran kemarin saya dan keluarga, bersama Baju Kotak juga  mengunjungi Museum Ullensentalu yang terletak di daerah Kaliurang. Tapi karena waktunya terbatas maka si mbak pemandunya nampaknya tidak sempat menjelaskan secara mendetil terkait dengan riasan yang tadinya hanya dikhususkan untuk keluarga keraton ini. Berikut sedikit sejarah mengenai riasan paes ageng. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi calon pengantin lain yang ingin menggunakan riasan ini di hari istimewanya :)
Image from :  http://nouragriyaayu.blogspot.com/2011/05/yogya-paes-ageng.html 

Paes Ageng
Dalam masyarakat Jawa, perkawinan merupakan salah satu siklus penting dalam kehidupan manusia. Manusia dianggap telah sempurna hidupnya jika telah menikah. Diharapkan dengan menikah, maka akan terbentuk sebuah keluarga baru yang nantinya akan mempunyai keturunan sebagai generasi penerus keluarga tersebut. Begitu pentingnya perkawinan sehingga perlu diadakan upacara/slametan untuk menyambutnya. Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu peralihan  terpenting dalam daur hidup seseorang, yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga.
Inti dari upacara pernikahan adalah akad nikah, yang disusul denganpanggih, sungkeman, dan walimahan. Dalam upacara panggih, pengantin menjadi pusat perhatian karena merupakan inti acara dan dapat diibaratkan sebagai raja sehari. Untuk itu pengantin dirias sedemikian rupa supaya berbeda dengan kesehariannya dan disesuaikan dengan kedudukannya sebagai raja sehari.
Salah satu tata rias dan busana pengantin adalah Paes Ageng Gaya Yogyakarta. Sampai  masa pemerintahan Sultan Sultan HB VIII, paes ageng ini hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Baru pada masa pemerintahan raja berikutnya, Sultan HB IX (1940), mengijinkan masyarakat umum memakai busana ini dalam upacara pernikahan.
Sampai saat ini, Busana Paes Ageng masih terus digunakan dalam upacara pernikahan di kalangan masyarakat Jawa, terutama pada kalangan masyarakat menengah ke atas. Hal ini dikarenakan biaya yang diperlukan cukup besar, baik dalam urusan busana maupun perlengkapannya.
Pemakaian busana paes ageng sangat rumit, memerlukan ketekunan dan ketelitian yang didalamnya terkandung kesakralan  maupun makna filosofi dalam setiap detail rias wajah, busana, dan asesorinya. Untuk itu segala sesuatu yang berhubungan dengan paes dipercayakan pada seorang juru rias paes pengantin. Baik perias maupun pengantin putri yang dirias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik molek dan bersinar.
Sejak zaman raja-raja Mataram, pengantin putri selalu menjadi pusat pandang karena setiap detail yang dipakainya mengandung makna filosofi yang sangat agung dan tidak semua orang mengetahuinya.


Tahap-Tahap Merias Wajah

Berikut ini uraian tahap-tahap merias gaya paes ageng beserta sajen sekaligus makna filosofinya

1.           Ratusan
Proses pengasapan bahan ratus yaitu wewangian tradisional pada rambut agar harum

2.           Halup-Halupan (cukur rambut)
Pembersihan wajah pengantin dengan cara mencukur rambut halus yang tumbuh di dahi atau memotong rambut menjuntai ke dahi sehingga wajah tampak bersih dan siap untuk dibuat pola wajah

3.           Cengkorongan
Merupakan pembuatan pola wajah paes ageng gaya Yogyakarta. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorong ini dikerjakan dengan pensil dan hasil akhirnya berupa gambar samar-samar / tipis
Cengkorong meliputi :
-         citak pada dahi, yaitu bentuk belah ketupat kecil dari daun sirih pada pangkal hidung di antara dua alis. Ada beberapa versi mengenai makna filosofinya, antara lain bahwa citak sebagai reflesi mata Dewa Syiwa yang merupakan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide. Pendapat lain mengatakan bahwa citak sebagai pemberi watak pada keseluruhan ide paes
-         panunggul, pangapit, panitis, godeg
panunggul dibuat di atas citak, ditengah-tengah dahi, berbentuk meru melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Ditengah-tengah  panunggul diisi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu seekor binatang yang selalu bergerak tanpa lelah dengan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup.
Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati
Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing
Penitis terletak di antara pengapit dan godheg
Pengapit, panitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka diletakkan simetris dengan panunggul

Alis dibuat berbentuk menjangan ranggah (tanduk rusa). Rusa merupakan symbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga
Daerah sekeliling mata dibiarkan tidak terjamah oleh boreh, diberi gambaran yang disebut jahitan. Untuk membentuk mata lebih tajam dan anggun sehingga orang-orang akan mengaguminya.

4.           Kandelan
Setelah cengkorongan selesai dibuat sesuai pola dasar dan tampak pantas (layak), baru kemudian paes wajah diselesaikan dengan menebalkan garis-garis yang samar menjadi paesan dadi (paes jadi)

5.           Dados
Selesai kandelan, dilanjutkan dengan dandos jangkep pengantin (pengantin berdandan lengkap) yang meliputi sanggul pengantin, perhiasan pengantin, kain pengantin, baju pengantin, dan dandosan (berbusana) lain selengkapnya

a.                 Hiasan Sanggul.
Tata rambut pengantin dibuat seperti bokor tengkurap sehingga dinamakan bokor mengkurepSanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan  daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat.
Gelung bokor mengkurep disempurnakan lagi dengan jebehan, yaitu 3 bunga korsase warna merah-kuning-biru (hijau) yang dirangkai menjadi satu dan dipasang di sisi kiri - kanan gelung. Tiga warna bunga itu melambangkan Trimurti (dewa Syiwa-Brahma-Wisnu).
Ditengah sanggul dihias dengan bunga merah disebut ceplok, dan di kiri – kanan ceplok itu disematkan masing-masing satu bros emas permata
Pada bagian bawah agak ke arah kanan sanggul dipasang untaian melati berbentuk belalai gajah sepanjang 40 cm, diberi nama gajah ngoling. Hiasan ini bermakna bahwa pemakainya menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral pula.

b.      Asesori Paes Ageng
            Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan seni tinggi dan sangat halus. Set  perhiasan ini berupa :
Image from :  http://museumku.wordpress.com/2011/03/07/museum-ullen-sentalu-penerapan-museologi-baru/ 


-   Cunduk Menthul
5 tangkai bunga dipasang di atas  sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.

-   Pethat/sisir berbentuk gunung
Hiasan berupa sisir terbuat dari emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunun, sebagai simbol kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.

-   Kalung Sungsun (kalung terdiri 3 susun)
Melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana

-   Gelang Binggel Kana
Berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas

-   Kelat Bahu (perhiasan pada pangkal lengan)
Berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkankekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci yang dipercaya menyangga dunia

-   Centhung
Perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga

-   Cincin
Menurut beberapa serat yang ditulis sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara (Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrid tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking symbol untuk selalu trampil dan giat dalam mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai symbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik

c.                       Busana
            Busana dalam Paes Ageng terdiri dari
            Kain Dodot/Kampuh berukuran 4 – 5 meter dengan lebar 2-3 meter.Motif batik yang sering digunakan adalah Sido Mukti, Sido Asih, Semen Rama, Truntum. Motif -motif tersebut mempunyai makna filosofi yang sangat bagus berupa harapan akan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang kekal, saling berbagi dan mengisi dengan cinta kasih dan harapan akan dikaruniai hidup sejahtera
            Selain kain panjang, pengantin putri memakai pakaian dalam dan selendang kecil (udet) berupa kain sutra motif cinde. Konon motif ini merupakan lambang sisik naga, yaitu symbol kekuatan. Sumber  lain mengatakan bahwa motif cinde sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran (dewi padi).
  

Sumber :
Perpustakaan Museum Ullen Sentalu 


Tuesday, 11 September 2012

Opposite Attract

Tiba-tiba kepikiran pengen cerita kenapa kasih nama owner blog ini dengan baju kotak dan rok kembang. Dimulai dengan waktu pertama kali si baju kotak main ke rumah. Komen pertama mama saya ketika saya memperkenalkan lelaki saya kali ini,
Kalian tu kayak baju kotak-kotak dipakein rok kembang-kembang ya. Ga matching.
Ouuwooooo.. Mak jleb sekali sodaraahh! Tapi sebenernya bukan tanpa alasan juga mama saya berkomentar demikian. Secara kasat mata memang bisa diliat perbedaan kami yang sangat mencolok. Dari karakter dia yang cool, sementara saya grasa-grusu.  Dia yang pendiam, dan saya yang susah disuruh diam. Kegemarannya dengan museum dan barang antik, sementara saya lebih suka gadget dan teknologi. We're just too different. But maybe that's why we fall for each other :") It's maybe what people call opposite attract, kaann?? Ya kaann? Iya aja sih!


Kangen Si Baju Kotak :")


Thursday, 6 September 2012

The Wedding Make Up

Gedung yang ada di postingan saya sebelumnya, sebetulnya bukan item pertama dalam wedding list saya yang udah bisa di-check. Soalnya pasca kunjungan balasan habis lebaran kemaren itu, saya udah langsung hunting sanggar perias yang oke di Semarang. Oke, oke, terlalu lebay sih kalo saya bilang di Semarang. Soalnya saya cuman sempat mengunjungi dua sanggar rias di daerah Banyumanik. Sengaja memang cari yang dekat rumah, jadi bolak-baliknya lebih mudah,

Kenapa sanggar rias duluan? Yaaa.. sekarang ini saya berdomisili di Makassar, jadi momen pulang kampung adalah momen mahal yang ga bisa dilakukan suka-suka. Apalagi kalo urusan wedding make up, saya pengen yang bener-bener sreg di hati. Maklum, ini kan insyaalloh akan jadi momen sekali seumur hidup, so I want this to be absolutely perfect. Makanya, mumpung kemarin masih ada waktu beberapa hari di rumah, jadilah saya dan mama berburu sanggar rias yang cocok.



Sanggar pertama yang saya datangi adalah Zahra Rias Pengantin, milik Mbak Dhani Djarot. Saya ke sini atas rekomendasi teman saya yang menikah beberapa bulan yang lalu. Apalagi di beberapa forum pernikahan, Zahra ini sedang jadi primadona, banyak yang merekomendasikan sanggar ini. Jadilah siang itu, saya dan mama meluncur ke Jalan Saninten Raya 127, tempat sanggar Zahra. Di sana kami tidak bertemu owner sanggar, hanya ada satu karyawannya saja yang ada. Jadi kurang puas juga  nanya-nanyanya. Cuman sempat liat foto-foto hasil rias dan ambil price list yang ada. Hasil riasnya oke. Cuman kurang puas liat pilihan kebaya yang bisa disewa. Padahal yang saya baca di forum-forum maya, sanggar ini bekerja sama dengan salah satu desainer kondang dari Semarang. Plus, harganya ternyata out of budget kami. Lupa-lupa inget sih kena berapa, yang jelas mereka masih kenakan charge tambahan kalo kita mau pake untuk make up siraman dan midodareni. Untuk calon pengantin dengan budget make up yang gede bisa deh main-main ke sanggar ini. Terutama yang tertarik untuk ambil paket make up pengantin muslim.

Sanggar kedua yang saya datangi -dan akhirnya saya pilih- adalah Katon Ayu. Sanggar ini adalah rekomendasi salah satu sahabat mama. Katon Ayu masih di Banyumanik juga, di Jalan Gaharu Utara No. 37-39. Selain sanggar rias, di sini juga jadi satu dengan Katon Ayu Spa, jadi untuk calon pengantin yang mau ambil paket perawatan pranikah bisa juga. Terakhir saya ke sana ada promo 20% untuk paket perawatan pranikah. Sayang posisi saya bukan di Semarang *mewek*.


Waktu liat contoh hasil foto make up di sanggar ini, saya merasa lebih 'sreg'. Make up-nya lebih njawani, dan harganya masuk ke budget kami. Hanya dengan 9,5 juta saya mendapatkan paket untuk rias dari acara siraman, midodareni, hingga akad+resepsi dengan gaya rias Paes Ageng modifikasi karena saya mengenakan jilbab. 9,5 juta itu termasuk sewa kebaya midodaren, akad, dan resepsi ; sewa beskap untuk pengantin pria, papa saya, dan bapak calon suami saya ; juga termasuk sewa kebaya seragam untuk adik perempuan saya dan adik perempuan suami.

Fitting kebaya dan DP perias saya lakukan hari itu juga ditemani mama, papa, dan adik perempuan mama saya. Entah ini hanya dialami oleh saya atau dialami juga oleh calon pengantin lainnya, saat fitting kebaya itu rasanya.. Ah, susah untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Apalagi sebelumnya papa berkeras mengantar kami ke sanggar hanya karena ingin meliat prosesi fitting kebaya itu. Final fitting akan dilakukan seminggu sebelum hari pernikahan saya untuk memastikan bahwa kebaya yang saya kenakan di hari itu terlihat sempurna. Maka, dengan bangga saya mencontreng dua item dalam wedding list saya. But.. the list still goes on..

Gedung ; Check!

Sebenernya perburuan mencari gedung udah dimulai dari sesudah lebaran kemaren. Tepat setelah orangtua saya dan orangtua calon suami saya mencapai kesepakatan mengenai tanggal pernikahan kami. Tapi karena ini penyelenggaraan pernikahan pertama bagi orangtua saya, jadilah dua minggu ini kami kebingungan memutuskan di gedung mana pernikahan saya akan diselenggarakan. Bingung kenapa? Yaa.. itu, namanya baru pertama, masih belum tau betul apa-apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih gedung pernikahan. Tanya dengan orang yang sudah berpengalaman? Not really help. Masing-masing orang punya pertimbangan yang berbeda.

Sebenarnya pilihan tempat pernikahan di Semarang cukup banyak. Pilihan pertama adalah gedung yang berada di lingkungan Balai Diklat BPD. Gedung ini dipilih karena tempat parkirnya yang teduh, tempatnya yang ‘tenang’ karena tidak langsung berada di pinggir jalan, dan juga karena di dekat gedung terdapat fasilitas penginapan. Jadi nantinya sih keluarga suami bisa diinapkan di dekat gedung. Biaya sewa penginapannya pun relatif murah yaitu 150 ribu rupiah per malam. Harga sewanya juga murah sekali, 6 juta sudah termasuk biaya parkir, keamanan, dan kebersihan. Free AC  dan genset kalau mati lampu pula. Terdengar sangat sempurna, bukan? Sayangnya saat orangtua saya ke sana, gedung tersebut sudah ter-booking di tanggal pernikahan saya Februari 2013 nanti. Bahkan, menurut orangtua saya juga, gedung tersebut sudah penuh di bulan Maret 2013. (untuk pernikahan yang diadakan di Hari Sabtu - Minggu ya, untuk weekday kemungkinan masih available :))

Kabar terakhir sih mama akhirnya mau DP Gedung Akpol (entah ini nama sebenarnya atau bukan, maklum sudah lama meninggalkan kota kelahiran, jadi udah ga update tempat-tempat yang ada di sana). Gedung ini sebenernya kapasitasnya ga jauh berbeda dari Gedung BPD, plus, harganya lebih mahal. Sewa untuk umum kena 8,8 juta, lumayan banget selisihnya dari Gedung BPD. Padahal, fasilitas yang ditawarkan relatif sama. Ga ada penginapan juga di lingkungan gedung ini. Tapi apa boleh buat, karena gedung yang dimau sudah ga available di tanggal pernikahan saya, mungkin belum jodoh juga sih. Dan kalau terlalu banyak memilih, takutnya Gedung Akpol juga penuh. Akhirnya satu item lagi dari wedding list saya bisa dicentang. Still, many more item to go..


Monday, 3 September 2012

A Preface. Whatever.

Pagi ini akhirnya saya memutuskan untuk ngeblog lagi. Bukan, saya sih bukan blogger keren gitu. Cuman pernah bikin blog berisi curhatan sampah waktu saya awal terdampar di kota ini. Saya akan menikah. 6 bulan lagi. Itupun kalau calon suami saya -si baju kotak- tidak tiba-tiba tersadar bahwa dia akan menikahi psiko seperti saya *evil grin*.

Jadi di sinilah saya, ditemani secangkir kopi susu, dengan takaran susu dan kopi masing-masing setengah-setengah, dan kudapan kentang sajian hotel tempat acara kantor diadakan. O how I always love wifi gratisan, by the way. Blog ini mungkin cuman akan berisi sampah curhatan saya, terutama yang berkaitan dengan persiapan pernikahan saya di Bulan Februari 2013. Dan jelas, dari blog ini saya ga akan mungkin mendadak dapet tawaran bikin buku dari penerbit seperti blogger-blogger lain yang tulisannya keren-keren itu *self puk2*. But anyway, if you ever find this post and spare your time to read it, I'll be so flattered. So.. Well, I'm not really good at saying fancy words. Welcome! :)

Yours Truly, Rok Kembang